Teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 1999 di bulan februari – maret. Berempat kami – gw, anton “bejo“, gema “mbhull“, rozi “ndut” - mendaki gunung semeru, yang merupakan gunung tertinggi (3.676 mdpl) di pulau jawa. Gunung ini konon katanya adalah tempat bersemayamnya para dewa, tidak berlebihan memang mitos yang ada di sekitar masyarakat tengger yang merupakan suku asli daerah sekitar semeru ini.
Kami, waktu itu masih duduk di kelas 3 SMA, dimana kami berempat memang tergabung di wadah organisasi ke-pecinta alam-an (PA) di sekolah kami di surabaya. Meskipun berada di bawah naungan organisasi PA, gw gak berani menyebut diri gw sebagai seorang pecinta alam, karena gw masih dalam taraf Penikmat Alam, memang sama2 mempunyai singkatan “PA” tetapi punya makna yang sangat berbeda.
Anyway, singkat cerita, setelah 2 hari pendakian, tibalah saatnya kami harus melalui track terakhir sebelum menuju puncak. Kira2 waktu itu sekitar jam 6 pagi kami berangkat dari basecamp terakhir yang dinamakan Arcopodo, setelah sebelumnya sekitar jam 1 dini hari berangkat dari basecamp kedua yaitu Ranu Kumbolo. Karena memang inti cerita yang mau gw sampaikan di posting ini ada di bagian “puncak” perjalanan kami waktu itu.
Track terakhir merupakan track paling susah, memang sudah sewajarnya begitu sih, adalah merupakan jalur berpasir dengan elevasi hampir mencapai 60 derajat (benar gak sih?? any comment??). Pada bukit pasir ini sudah tidak ada vegetasi lagi, kecuali ada satu pohon cemara yang sering disebut “Cemoro Tunggal”. Disebut demikian karena memang dia satu2nya vegetasi yang ada di bukit pasir ini. Track ini benar2 menguji ketahanan fisik dan mental kita, gimana nggak, bayangin aja setiap kita melangkahkan kaki ke atas 2 langkah maka kita akan turun 3 langkah … hhhmmm …
Di tengah perjalanan terakhir ini, setelah melewati cemoro tunggal, yang artinya tinggal beberapa belas meter lagi, salah satu team kami – Ndut - mengalami apa yang dinamakan sakit ketinggian atau bahasa kerennya hypothermia. Hal ini dialaminya akibat semakin menipisnya cadangan oksigen. Seperti kita ketahui bahwa semakin tinggi suatu tempat maka kadar oksigennya juga akan semakin menipis. Saat itu Ndut merasakan sakit di tengkuk lehernya, dia mengeluh ke gw yang pada saat itu memang berada di bagian paling belakang (Gw memang sering menjadi bagian sapu bersih dalam suatu perjalanan pendakian). Spontan aja gw nyuruh dia berhenti sejenak, dan memanggil Gema yang berada di depan Ndut. Dan gw katakan ke Ndut
“Tarik nafas dalam2 dan pelan2 keluarkan”
Setelah agak enakan, gw katakan ke Gema untuk menyusul team yang lain – Team Bandung (Ime+Sony), Team Jakarta (Nyot+Dino+Ciler) – yang memang saat itu kebetulan mendaki dalam waktu yang sama.
“Gw akan temani Ndut, kamu naik aja dulu Mbhull”, kata gw ke Gema.
Setelah itu Gema naik menyusul Bejoe yang memang berada paling depan dan sudah naik ke Puncak Mahameru terlebih dahulu dengan team yang lain.
“Ok, kamu masih kuat jalan gak? Kita teruskan pendakian kita, tinggal beberapa meter lagi tuh, sudah dekat, puncak sudah hampir tak terlihat”, kata gw ke Ndut yang nampak sudah baikan.
“Ngga Sis, gw udah gak kuat jalan lagi, kamu susul yang lain aja ke atas, gw tunggu disini”, jawab Ndut.
“Sayang Ndut, puncak tinggal beberapa meter aja, sudah dekat, ayo kita naik sama2, pelan2 aja, gw akan bimbing lu”, kata gw menimpali.
“Ngga Sis, gak apa2, kamu naik aja”, kata Ndut lagi.
Gw bingung, apakah gw tetap tinggal disitu menemani Ndut atau gw akan tinggalin Ndut sendirian dan gw naik menyusul yang lain. Setelah timbul perdebatan dalam hati gw, antara gak tega untuk ninggalin Ndut sendirian dan rasa sayang (atau tepatnya ego kali ya) atas usaha yang tinggal beberapa meter lagi tercapai – karena memang suatu pencapaian sukses dan kebanggan tersendiri bagi seorang pendaki gunung adalah jika dia telah dapat mencapai puncaknya -, akhirnya gw memilih option yang kedua, yaitu menyusul yang lain dan itu artinya gw harus ninggalin teman gw seorang diri di tengah2 bukit pasir, dengan kondisi yang agak badai waktu itu dan udara sangat dingin disertai angin yang kurang bersahabat. Terlebih lagi teman gw itu dalam kondisi yang sangat tidak prima! Blaik …!!
“Ndut, gw akan susul yang lain, kamu diam disini sambil bernafas dengan tenang, jangan panik dan jangan tertidur, kamu sembunyi di celah ini untuk mencegah terkena angin secara langsung, yang terpenting kamu jangan sampai tertidur! ini makanan dan minum buatmu,” kata2 terkahir gw sebelum gw berangkat.
************
Ternyata ke-egoan gw pada waktu menjadikan keputusan gw yang tepat berubah menjadi suatu keputusan yang sekaligus salah.
TEPAT karena gw menyuruh Ndut untuk berhenti sejenak pada saat itu juga, karena kalau tertunda sedikit lagi muingkin cerita yang terjadi akan lain, dan ngga memaksakan dia untuk meneruskan pendakian, karena bisa fatal akibatnya.
SALAH karena hanya karena sesuatu yang bernama EGO gw sebagai seorang leader team berani meninggalkan dia seorang diri di suatu kondisi yang buruk. Jika saat itu terjadi apa2 dengan dia, gw ngga akan bisa memaafkan diri gw sendiri. Alhamdulillah ketika gw beserta teman2 yang lain turun dari puncak, gw masih bisa melihat Ndut tersenyum di tempatnya semula dan bersama2 kami menuruni bukit pasir yang gersang itu dengan ber-ski pasir.
- Ternyata kebanggaan itu terletak pada hati yang dapat menguasai egonya bukan pada tertancapnya bendera pada tanah tertinggi -
Jakarta, 5 Mei 2008
Alexis.





rasanya pengen nangis baca tulisan di blogmu ini cis…
Alexis, Bejo, Rozi, Arif, Novi, Nina
semoga sampe mati kita tetep jadi sodara yang ketemu gede..
hahahaha…
emang sejak kapan kamu bisa nangis mbul….
tapi aku memang sayang kalian…..